Suatu ketika keluarga Wati dan Tari berwisata ke Candi Prambanan. Dua wanita ini sudah berdandan bergaya ala turis asing. Pakaian dipilih yang paling top dengan kacamata hitam sebagai aksesori tambahan namum utama untuk penampilan.
Wati yang memang pada saat itu sebagai bossnya langsung menuju loket penbayaran. Dua keluarga ini semua dibelikan tiket olehnya. Uang dibayarkan dan tiket diterma.
Sesampainya di depan pintu masuk pengecekan tiket, Wati dan Tari terlihat serius membicarakan tiket yang telah diterimanya.
Wati : "Mbak, kok tiketnya 14 ya? Padahal saya tadi hanya beli 13. Gimana nih?"
Tari : "Weee lha kebanyakan itu. Piye to pegawene ki? gur tuku 13 kok diwenehi 14"
Seno : "Ah, gak usah bingung. Berikan saja kepada pengunjung yang lain!"
Wati : "Gak usah lah, biar kita bawa saja."
Keluarga dua wanita ini masuk satu per satu, tiga orang terakhir yang masuk secara urut adalah Tari, Wati, dan Seno. Tari masuk, sampai di depan petugas tiketnya diminta untuk digesekkan pada mesin pembaca barcode. Dia lolos masuk dengan lancar. Sampai pada giliran Wati, terjadi insiden kecil yang membuat perhatian pengunjung lain.
Wati : "Ini, Pak." (sambil memberikan tiket dengan yakin dan agak kemayu)
Petugas : "Emmm, ini bukan tiket masuk, Bu."
Wati : "Lho kok bukan? Padahal ini tadi juga pemberian dari petugas loket lho Pak!"
Petugas : "Iya, Bu. Tapi tiket masuknya bukan yang ini."
Wati : "Bapak ini kok ngeyel to! Ini juga tiket!"
Petugas : "Satunya lagi, Bu. Bukan yang ini. Kalau pakai yang ini, Ibu gak boleh masuk."
Wati sadar masih bawa satu, lalu diserahkan kepada petugas.
Wati : "Apa ini, Pak?"
Petugas : "Lhaaaaa ini yang betul."
Ternyata yang salah diberikan Wati tadi adalah nota total pembelian tiket untuk 13 orang.
Berbahasa Indonesia tidak sekadar pada berbicara, namun juga harus sampai pada menyimak, membaca, dan menulis. Melalui blog ini, semoga memberika inspirasi kepada Anda untuk tetap konsisten berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Cintailah Bahasa Indonesia dan banggalah berbahasa Indonesia!
Minggu, 07 Januari 2018
Kamis, 29 Oktober 2015
anekdot
Sabtu, 25 Oktober 2015. Aku guru SMA Negeri 1 Wonogiri saat itu bekerja sudah sampai sore, menyelesaikan administrasi untuk keperluan studi banding dan try out dengan SMA Muhammadiyah 1 Klaten. Pukul 16.00 di teras kantor, ada dua siswi bertanya kepadaku. "Pak, apakah ada pompa?" tanya salah satu dari mereka sambil menggotong satu galon air mineral. Mereka tampak keberatan.
Melihat mereka, aku jadi iba. Tanpa berselang sedetik pun langsung kujawab, "Ada." Sementara di depanku kebetulan sekali melintas guru olahraga, Triman. "Apa pompanya masih di ruang guru, Pak?" tanyaku kepada beliau. Langsung saja dia menjawab, "Masih." Tanpa ba-bi-bu aku ke ruang guru mengambilkan pompa itu untuk anak didikku. "Ini Nak, pompanya," sambil kuserahkan dengan rasa senang karena bisa membantu kesulitan siswaku yang akan menambah angin ban sepeda motornya. Namun apa yang terjadi? Terrrrnyata... yang diminta justru pompa air!!!!
Rabu, 29 Februari 2012
Selasa, 07 Februari 2012
Lomba Berpakaian Kimono dan Cerita Rakyat Berbahasa Mandarin
Jumat, 25 Maret 2011
Selasa, 08 Juni 2010
Berenang merupakan salah satu kegiatan yang menguntungkan bagi anak masa usia dini sampai dengan remaja karena pada masa ini fisik anak akan mendapatkan pengaruh positif. Misalnya, paru-paru menjadi sehat dan tubuh pun akan mengalami perkembangan yang baik. Mental juga akan lebih baik seperti gambar ini.
Langganan:
Postingan (Atom)